Internasional

Usai Venezuela, Donald Trump Ancam Lima Negara yakni Greenland, Meksiko, Kuba, Kolombia dan Iran

Venezuela usai serangan udara berskala besar Amerika Serikat. (Marcos Salgado/Xinhua/Antara)

Telegrapnews.com – Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali memicu kegelisahan global. Setelah menggulingkan Presiden Venezuela Nicolas Maduro, Trump melontarkan ancaman dan sinyal kemungkinan intervensi terhadap lima negara lain.

Langkah ini dinilai mempertegas gaya politik luar negeri agresif Trump dengan dalih America First. Maduro kini telah tampil di pengadilan New York.

Di saat bersamaan, para pemimpin dunia mulai bertanya-tanya. Negara mana yang akan menjadi sasaran berikutnya dari kebijakan keras Washington.

Menurut laporan media Inggris Mirror, Trump disebut merasa semakin percaya diri setelah Operasi Absolute Resolve. Dia bahkan secara terbuka memberi isyarat tindakan agresi militer atau tekanan ekstrem terhadap Greenland, Iran, Kuba, Meksiko, dan Kolombia.

Dalam berbagai pernyataannya, Trump tampak menempatkan diri sebagai polisi dunia versi baru, tak segan mengancam negara sekutu maupun tetangga dekat Amerika Serikat.

Greenland: Kepentingan Militer dan Tambang Strategis
Greenland kembali masuk radar Gedung Putih. Pulau Arktik yang berada di bawah kedaulatan Denmark—sekutu NATO AS—dianggap memiliki posisi vital bagi pertahanan Amerika.

“Kita butuh Greenland. Saat ini sangat strategis,” ujar Trump, sembari menuding meningkatnya aktivitas Rusia dan Tiongkok di kawasan tersebut.

Menurut dia, Denmark tidak cukup mampu menjamin keamanan wilayah itu. Saat ini sekitar 150 personel militer AS ditempatkan di Pituffik Base, fasilitas era Perang Dingin yang berfungsi sebagai sistem peringatan dini rudal balistik antarbenua (ICBM).

Namun, para penasihat Trump menilai pangkalan tersebut perlu diperkuat untuk menghadapi ancaman rudal hipersonik yang lebih sulit dideteksi.

Selain kepentingan militer, Greenland juga kaya sumber daya alam strategis seperti rare earth elements, litium, nikel, grafit, dan logam platinum, komponen penting teknologi hijau. Mencairnya es akibat perubahan iklim membuka peluang eksploitasi baru, yang dipandang Trump sebagai kesempatan investasi besar bagi Amerika.

Kuba: Rezim Lama dalam Tekanan Baru
Kuba, sekutu lama Rusia dan mitra dekat Venezuela, juga masuk daftar perhatian Trump. Negara komunis itu telah lama bersitegang dengan Washington sejak 1961. Trump menilai jatuhnya Maduro akan berdampak langsung pada ekonomi Kuba.

“Sepertinya itu sedang menurun,” ujar dia, menandakan tak melihat perlunya intervensi langsung.

Namun Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio memberi peringatan lebih keras. “Jika saya tinggal di Havana dan bekerja di pemerintahan, saya akan khawatir,” kata Rubio, menegaskan sikap Washington yang tetap memusuhi rezim Havana.

Iran: Ancaman Konflik Skala Besar
Iran menjadi target dengan risiko paling tinggi. Setiap aksi militer terhadap Teheran berpotensi memicu konflik besar berkepanjangan, bahkan menyerupai Perang Teluk.

Dengan latar belakang program nuklir Iran, keterlibatan Israel dan sekutu AS lainnya hampir tak terelakkan. Washington sendiri sebelumnya telah menyerang fasilitas nuklir Iran, membuat eskalasi lanjutan dinilai semakin mungkin terjadi.

Kolombia: Retorika Keras soal Narkotika
Kolombia juga tak luput dari ancaman Trump. Saat ditanya soal kemungkinan aksi militer, Trump menjawab singkat: “terdengar bagus,” kata Trump.

Dia bahkan menyebut Presiden Kolombia Gustavo Petro sebagai pemimpin sakit dan menuduh negaranya memproduksi serta menjual kokain ke Amerika Serikat. “Dia tidak akan melakukannya untuk waktu yang lama,” ujar Trump.

Alih-alih perang terbuka, analis menilai Kolombia lebih berisiko menghadapi operasi rahasia pasukan khusus AS yang menyasar fasilitas produksi narkoba, dengan narasi perlindungan keamanan domestik Amerika.

Meksiko: Tetangga Dekat, Ancaman Nyata
Masalah narkotika dan arus migrasi dari Meksiko telah lama menjadi isu sensitif bagi Trump. “Meksiko harus bersatu dalam memerangi perdagangan narkoba,” kata dia.

Trump mengklaim telah berulang kali menawarkan bantuan militer, namun menuding Presiden Claudia Sheinbaum takut menerima kehadiran pasukan AS. Mengingat kecilnya peluang balasan militer dari Meksiko, opsi operasi terbatas dinilai tetap terbuka dan berpotensi dimanfaatkan Trump untuk konsumsi politik domestik.(*)

Share

Recent Posts

  • Nasional

KPK Telisik Aliran Uang di Kasus Pengurusan Sertifikat K3 Kemenaker, Ini Dia para Tersangka dan Jabatannya

gedung KPK. f. istimewa TelegrapNews.com - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) melacak aliran uang hingga sosok…

13 jam ago
  • Batam

173 Personel Ditsamapta Polda Kepri Siaga Amankan Ramadhan di Kota Batam

Petugas kepolisian berjaga di salah satu titik bazar Ramadhan di Kota Batam. F. Istimewa TelegrapNews.com…

16 jam ago
  • Nasional

Dua Korban Tewas dalam Penyerangan di Pos Pengamanan PT Kristal Nabire, Satgas Ops Damai Cartenz Lakukan Penyelidikan Mendalam

Evakuasi jenazah di Pos Pengamanan PT Kristal Kilometer 38. F. Istimewa TelegrapNews.com – Insiden penyerangan…

1 hari ago
  • Nasional

Pemerintah RI Setujui Impor Mikol dari Amerika Serikat, Sebut Upaya Tingkatkan Daya Saing Destinasi Internasional

Ilustrasi Alkohol. F. Istimewa TelegrapNews.com - Pemerintah akhirnya buka suara terkait alasan di balik kesepakatan…

1 hari ago
  • Nasional

Produk AS Tak Wajib Label Halal di Indonesia, MUI Minta Masyarakat Lebih Waspada

Logo Halal Indonesia.F. Istimewa TelegrapNews.com - Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Bidang Fatwa, Prof KH…

2 hari ago
  • Nasional

Menko Yusril Desak agar Brimob Penganiaya Anak di Tual, Maluku Diproses Etik dan Dipidana

Yusril Ihza Mahendra. F. Istimewa TelegrapNews.com - Menteri Koordinator Bidang Hukum, HAM, Imigrasi, dan Pemasyarakatan…

2 hari ago