More

    Negara Rugi Hingga Rp15.400 Triliun dari Praktik Kecurangan Ekspor Selama 34 Tahun

    Presiden Prabowo Siapkan Pulau Galang Batam Jadi Pusat Medis Korban Perang Gaza, Bisa Tampung 2.000 Orang
    Presiden Prabowo Subianto. F. Istimewa

    TelegrapNews.com– Presiden Indonesia Prabowo Subianto mengungkap praktik manipulasi perdagangan dan pelaporan ekspor yang sudah berlagsung hingga 34 tahun.

    Praktik curang itu telah merugikan Indonesia hingga mencapai USD 908 miliar atau Rp 15.400 triliun dalam kurun 1991 hingga 2024.

    Prabowo menyebut praktik yang terjadi selama puluhan tahun itu berkaitan dengan under-invoicing, under-counting, hingga transfer pricing yang dilakukan sejumlah pelaku usaha melalui perusahaan di luar negeri.

    BACA JUGA:  Kabinet Prabowo-Gibran Mulai Disusun: Nama-nama Menteri Muncul Menjelang Pelantikan

    “Selama 34 tahun apa yang terjadi? Yang terjadi adalah apa yang disebut under-invoicing. Under-invoicing sebenarnya fraud atau penipuan,” kata Prabowo saat berpidato pada Rapat Paripurna ke-19 DPR RI di gedung DPR, Jakarta, Rabu (20/5).

    Pidato itu terkait Kerangka Ekonomi Makro dan Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal (KEM dan PPKF) Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2027.

    BACA JUGA:  Menkeu Purbaya Gelontorkan Rp 55 Triliun untuk THR PNS, TNI-Polri di Awal Ramadhan

    Under-invoicing adalah praktik curang importir atau eksportir yang sengaja melaporkan nilai barang dalam faktur (invoice) lebih rendah dari harga transaksi sebenarnya. Adapun under-counting adalah istilah yang merujuk pada praktik atau kesalahan pencatatan yang menghasilkan jumlah yang lebih rendah dari angka sebenarnya.

    Dan transfer pricing merujuk pada kebijakan penetapan harga untuk transaksi antara pihak-pihak yang memiliki hubungan istimewa.

    BACA JUGA:  Disambut Hangat Presiden Lula, Prabowo Hadir pada Pertemuan Pimpinan Negara G20 di Brasil

    Menurut Prabowo, selama puluhan tahun kecurangan-kecurangan itu dibiarkan berlangsung sehingga merugikan negara hingga belasan ribu triliun rupiah.

    “Yang dijual oleh pengusaha-pengusaha tidak dilaporkan yang sebenarnya. Banyak di antara mereka membuat perusahaan di luar negeri. Dia jual dari perusahaan dia di dalam negeri ke perusahaan dia di luar negeri yang harganya jauh di bawah harga yang sebenarnya,” kata Presiden.(*)

    Baca berita lainnya

    Leave a reply

    Silakan masukkan komentar anda!
    Silakan masukkan nama Anda di sini