
TelegrapNews.com – Wakil Ketua PWI Kepri Lintong C Manurung mengatakan pengunduran diri dari beberapa anggota PWI Provinsi Kepri harus ditanggapi positif. Menurutnya PWI Kepri sangat menghormati keputusan yang diambil oleh Ady Pawenari Cs. Meski menurutnya, alasan mengundurkan diri itu harusnya jangan diframing seolah-olah menjadi korban.
Menurut Lintong, dinamika internal dalam sebuah organisasi adalah hal yang wajar, namun pembentukan narasi yang tidak sesuai dengan fakta lapangan tentu memerlukan klarifikasi yang berimbang. “Kita sangat menghargai keputusan dari teman-teman itu untuk mundur dari PWI. Tapi mereka membingkai seolah-olah mereka sebagai pihak yang terzalimi, sekaligus melempar narasi seolah Pengurus Pusat bertindak arogan,” katanya.
LCM panggilan akrab Lintong tegas mengatakan bahwa Narasi semacam itu tentu bertolak belakang dengan fakta proses komunikasi dan ikhtiar organisasi yang telah berjalan. Jauh sebelum pengunduran diri tersebut mengemuka, pintu dialog dan jalan rekonsiliasi telah dibuka lebar oleh PWI Kepri lewat saran dari PWI Pusat. Langkah ini diambil semata-mata demi menjaga integritas, soliditas, dan marwah organisasi PWI di Kepulauan Riau.
Dalam prosesnya, iktikad baik tersebut disambut dengan komunikasi tatap muka secara langsung. Namun, fakta di lapangan menunjukkan adanya inkonsistensi sikap.
“Perhatian yang sangat luar biasa dari PWI Pusat. Ketum dan Ketua DK sampai datang langsung ke Batam. Harapannya, tidak ada lagi gesekan di antara sesama anggota PWI. Bagaimana organisasi PWI menjadi rumah besar tempat bernaung bagi semua anggotanya,” ujarnya.
Dengan kerendahan hati dari Ketum PWI Pusat Cak Munir dan Ketua DK Attal S Depari, membuka tangan. Merangkul Ady Pawenari Cs yang saat itu, dan mungkin sampai sekarang juga bernaung di bawah Komunitas Jurnalis Kepri (KJK). Meminta agar tetap berkoordinasi dengan PWI Kepri dalam membuat sebuah program yang berhubungan dengan PWI.
Harusnya 4 Agustus 2026 lalu di Golden Prawn Bengkong, menjadi awal atau babak baru terciptanya kekompakan pasca Kongres PWI Pusat beberapa waktu lalu. Waktu pertemuan itu kesepakatan dan respons positif secara lisan disampaikan (“mengatakan iya”). Komitmen untuk mencari titik temu dan menyelesaikan dinamika internal secara bijak sempat tercipta.
Tetapi esok harinya, berseliweran tulisan-tulisan di beberapa media online yang menyebut bahwa Ady Cs mundur dari PWI dengan berbagai narasi yang jelas bertentangan dengan semangat kesepakatan yang telah dibicarakan.
“Dan perlu saya tegaskan di sini, tudingan bahwa Pengurus Pusat bersikap arogan terkesan sebagai bentuk pembelaan diri yang dipaksakan. Penegakan AD/ART serta upaya menjaga disiplin organisasi sering kali disalahartikan sebagai bentuk kesewenang-wenangan oleh pihak yang tidak ingin terikat pada aturan bersama,” tegasnya.
Ketika upaya perangkulan dan dialog telah ditawarkan namun direspons dengan sikap ganda—mengangguk di depan, namun menolak di belakang—maka pengunduran diri adalah pilihan pribadi yang harus dihormati. “Saya ulang lagi framing bahwa diri mereka “terzalimi” jelas tidak mencerminkan proses rekonsiliasi yang sebenarnya telah diupayakan” tutupnya.(*)
